CORETAN ANAK MELAYU SAMBAS

Success isn’t about how much money we make,
it’s about the differences we make in people’s life
“Michelle Obama”

Ø  Jawaban Tuhan atas Doa dan Usaha Hamba-NYA.
Saya Alanuari, anak pertama dari bapak Bakran dan ibu Nurjannah, putra asli melayu Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Saya berasal dari daerah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia tepatnya di ujung utara kabupaten Sambas yaitu kecamatan Galing. Menempuh jarak kurang lebih dari 10 km dari desa saya, saya sudah bisa menuju Sarawak Malaysia atau yang sering diklaim dengan sebutan Tanjung Datok. Saya mengawali pendidikan formal di Sekolah Dasar Negri 21 Parit Baru kemudian melanjutkan ke SMP Islamiyah Sekura dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Swasta Yasti Sekura tahun 2009. Selama mengenyam pendidikan menengah saya tinggal bersama Nenek saya, karena di kampung orang tua saya belum ada sekolah setingkat SMP dan SMA. Di sana desa antar desa dipisahkan oleh sungai dan anak sungai yang terbentang di seluruh pelosok kampung, sehingga transportasi yang paling dominan adalah perahu. Tak terkecuali transportasi untuk anak-anak sekolah yang sedang mengenyam pendidikan.

Kabupaten Sambas termasuk salah satu kabupaten di Kalimantan Barat dengan kategori terpencil dan tertinggal pembangunannya. Kualitas dan kuantitas sarana prasarana dan infrastruktur jalan dan jembatan masih jauh dari harapan, padahal Kabupaten Sambas berada di ujung Negri yang menjadi representasi dari tingkat pembangunan nasional. Di tengah-tengah keterbatasan tersebut tidak mengurung semangat saya untuk menuntut ilmu dan mengejar mimpi setinggi mungkin.
Setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah aliyah, saya termasuk anak yang kurang beruntung bisa langsung melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Tingginya biaya pendidikan di perguruan tinggi dan keterbatasan keluarga untuk membiayai pendidikan saya, menunda langkah saya untuk mengenyam pendidikan di universitas. Sempat didaftarkan sebagai calon penerima beasiswa Outreaching, saya merasa mempunyai harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan. Namun Tuhan berkata lain, pengajuan dari sekolah hanya meloloskan saya sebagai “cadangan” penerima beasiswa tersebut yang artinya saya hanya berkesempatan memperoleh beasiswa tersebut dengan syarat jika ada calon penerima beasiswa yang sudah lolos mengundurkan diri dari program tersebut. Akhirnya hingga beberapa bulan pasca kelulusan tidak ada jawaban tentang beasiswa tersebut, saya memutuskan untuk menunda kuliah saya hingga tahun berikutnya.
 Selama setahun terakhir, saya memberanikan diri hijrah ke kota Singkawang setelah diajak saudara untuk bekerja menjadi karyawan “steam” motor dan mobil milik seorang Tionghoa sambil mengikuti kursus komputer. Pertama kali merasakan susahnya mencari uang dan lelahnya bekerja seharian membuat saya sadar bahwa hidup itu tidaklah “mudah.” Saya sengaja berniat menyisihkan sebagian gaji saya untuk ditabung yang akan saya pergunakan untuk modal pertama masuk ke perguruan tinggi Negri di Pontianak. Jari-jari tangan mengelupas dan kulit tangan saya mengkerut persis seperti sisik ular karena mengalami iritasi sering terkena sabun serta rasa lelah sangat tampak di wajah saya. Itulah yang menjadi bagian dari hidup saya ketika itu. Belum lagi tekanan dari sang bos yang tergolong over kontrol dan mudah marah jika ada anak buahnya yang ceroboh dalam bekerja. Kenyataan tersebut tidak saya hiraukan demi sebuah keinginan “duduk di bangku kuliah.” Hanya sabar dan berusaha sembari berdoa yang bisa saya lakukan di tengah-tengah kenyataan hidup yang begitu rumit. “Bekerja dan mengumpulkan uang untuk kuliah,” itu yang menjadi teriakan hati saya setiap kali saya patah semangat.
Satu tahun pun akhirnya berlalu dan saya berhasil mengumpulkan uang untuk mencoba daftar kuliah di perguruan tinggi Negri. Setelah mendapat dukungan dan bantuan dari saudara di Pontianak, saya mendaftar di fakultas kependidikan yaitu pendidikan bahasa Inggris, karena saya merasa punya potensi di bahasa Inggris. Ketika masih di bangku madrasah Aliyah saya pernah ikut kompetisi pidato Bahasa inggris antar Madrasah Aliyah tingkat provinsi Kalimantan Barat dan berhasil meraih peringkat kedua. Dengan penuh harap saya mempersiapkan semua kebutuhan untuk ikut seleksi lokal di Universitas Tanjungpura. Saya berada di antara 1314 orang yang memperebutkan 75 kursi di departemen Bahasa dan Sastra waktu itu. Semua usaha dan persiapan yang saya lakukan ternyata belum bisa mengantarkan saya lolos ke perguruan tinggi. Saya gagal seleksi bersaing dengan ribuan calon mahasiswa di sana.
Kegagalan tersebut tidak menyulutkan semangat dan harapan saya tetap berkeyakinan harus kuliah tahun itu juga karena saya sudah menundanya 1 tahun. Penantian yang lama harus saya akhiri agar saya bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga dan bangga membahagiakan kedua orang tua. Saya tinggalkan kota Pontianak dan kembali ke kampung halaman untuk mencari jalan lain agar bisa kuliah. Di kampung, saya mendapat tawaran besaiswa tes kuliah di bidang kesehatan. Ketika itu saya memilih program studi Kesehatan Gigi. Setelah melewati tes tertulis, ternyata saya belum juga beruntung bisa kuliah di bidang kesehatan. Maklum yang bisa masuk di perguruan tinggi tersebut dengan mudah adalah mereka yang memberi uang pelicin walaupun kemampuan akademiknya belum tentu mumpuni.
Impian menjadi dokter gigi pupuslah sudah, akhirnya saya meminta pertimbangan kedua orang tua untuk kuliah melalui jalur reguler di Kota Sambas. Saya berencana kuliah sambil bekerja agar tidak terlalu membebani kedua orang tua karena saya punya 2 adik yang masih sekolah dan sangat membutuhkan biaya untuk sekolah. Mungkin dengan kuliah di sana saya bisa menjaga orang tua sembari menuntut ilmu dan bekerja. Namun, lagi dan lagi Tuhan berkehendak lain. Pendaftran kuliah di kampus Universitas Terbuka telah ditutup dan jurusan pendidikan Bahasa Inggris yang saya diidam-idamkan telah ditutup untuk sementara. Saya menghela napas mencoba menenangkan diri  dengan berdoa meminta dibukakan jalan untuk bisa kuliah tahun itu juga. Jawaban Tuhan masih misteri dan sempat terbesit sebuah pertanyaan besar di hati saya, “Ya Allah, sebegitu sulitkah untuk bisa kuliah bagi anak seorang petani ini?” Sementara, bagi orang yang berduit dan tinggal di kota begitu mudah mengakses pendidikan tinggi.
 Gagal mendaftar kuliah di Sambas, saya memutuskan untuk membantu orang tua bertani karet di rumah. Orang tua saya sehari-hari bekerja sebagai petani karet untuk menyambung hidup. Ayah saya memiliki  dua bidang tanah perkebunan karet. Saya dan orang tua saya harus bangun pagi-pagi dan setelah sholat subuh langsung ke hutan untuk mengais rejeki di perkebunan karet milik pribadi yang tidak terlalu luas. Warga di kampung kami memang 90 persen bertani karet. Tetes demi tetes air getah karet kami kumpulkan untuk dibekukan dan dijual ke pengecer. Hasilnya untuk makan sehari-hari dan sisanya ditabung untuk membiayai keperluan sekolah adik-adik saya dan keperluan keluarga yang lain. Menggeluti runinitas sebagai petani karet saya lakukan di kampung dengan penuh semangat untuk membantu orang tua sembari masih berharap dan berupaya mencari jalan untuk bisa kuliah. Besarnya keinginan saya untuk kuliah membuat saya terus bersemangat dan optimis pasti ada jawaban Tuhan atas segala doa dan usaha.
Bekerja menjadi petani karet tidaklah mudah, saya harus belajar bagaimana cara menggunakan pisau sadap dengan baik dan memastikan aliran getah karet dengan benar. Menggunakan pisau sadap tidak boleh terkena batang bagian dalamnya karena akan menyebabkan batang pohon karet akan rusak dan tidak produktif lagi menghasilkan getah karet. Kulit batang karetlah yang terdapat getahnya. Melukai kulit batang karetnya tidak boleh terlalu dangkal dan terlalu dalam sehingga kulit karet yang kita sadap dapat mengeluarkan air getah yang cukup. Mengalirkan getah karet juga sangat penting dilakukan agar getahnya dipastikan masuk ke tempat penampungan getah karet. Jika batang karet dalam keadaan basah, maka getah karet tidak akan mengalir sampai ke tempat penampungannya. Oleh karena itu jika hujan turun, petani karet tidak bisa bekerja dan harus menunggu hingga batang pohon karet kering.
Selama hampir 6 bulan menjadi petani karet, saya mengerti betul akan falsafah hidup yang sangat bermakna yang saya dapatkan dari pengalaman menjadi petani karet. Setiap hari ketika sedang bekerja di hutan, saya ditemani puluhan nyamuk yang sangat setia mengikuti kemanapun saya berjalan selama saya masih berada di hutan. Ketika saya terdiam sejenak maka nyamuk-nyamuk lapar itu akan langsung menusukkan alat hisapnya ke kulit yang akan membuat kulit terasa sangat gatal dan itu membuat saya tidak fokus ke pekerjaan saya mengumpulkan getah karet. Jika saya menepuk nyamuk tersebut, saya akan terkena percikan getah karet yang masih menempel di telapak tangan saya. Namun, ketika saya tidak menghiraukan nyamuk tersebut dan terus bergerak melanjutkan pekerjaan saya, maka nyamuk tersebut tidak sempat menggigit karena saya terus menggerakkan anggota tubuh saya. Nyamuk-nyamuk tersebut hanya akan berkeliaran di sekitar saya dan menunggu saya terdiam untuk melampiaskan misinya. Falsafah hidup yang saya temukan dari situ adalah bahwa “hidup itu harus bergerak.” Nyamuk-nyamuk tersebut adalah sebagai bagian dari tantangan dan kesempatan dalam hidup, jika kita tidak menghadapinya maka kita akan ditertawakan oleh kehidupan.
Kegagalan demi kegagalan yang saya alami untuk bisa duduk di bangku kuliah, menjadikan saya semakin kuat dan bertekad untuk terus berupaya mengejar impian untuk masa depan yang lebih baik. Kyai Zainuddin MZ pernah berpesan di salah satu ceramahnya “jika ingin sukses harus berani susah.” Ayah saya pun berpesan kepada saya “kamu harus lebih baik dan lebih hebat dari Ayah.” Jaman semakin berubah dari hari ke hari, jika saya tinggal diam dengan nasib dan kegagalan, maka saya tidak akan sanggup menghadapi tantangan jaman.
Suatu hari, tidak sengaja saya mendapat undangan dari almamater saya untuk reuni alumni-alumni Madrasah Aliyah Yasti Sekura. Di acara tersebut saya bertemu dengan guru SMP sekaligus guru Madrasah saya bernama Bapak Bahtiar. Beliau adalah guru kesenian di sekolah saya. Beliau menanyakan tentang kuliah saya, padahal sudah setahun lebih saya “mengganggur” (sebutan bagi anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi). Setelah mendengar cerita saya tentang usaha dan perjuangan saya untuk kuliah, beliau merekomendasikan saya untuk menemui Kepala Sekolah SMP Islamiyah yang juga almamater saya. Beliau mengabarkan kepada saya bahwa ada peluang beasiswa ke Jawa yang diperuntukkan bagi lulusan Madrasah Aliyah. Hanya itu informasi yang saya terima dari beliau. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya langsung menuju rumah Ibu kepala sekolah SMP saya, maklum jarak rumah saya menuju rumah beliau cukup jauh dan harus menyebrang sungai dengan perahu. Dari Ibu kepala sekolah saya mendapatkan informasi bahwa memang benar ada sebuah SMP Islam berbasis pesantren yang sedang merekrut lulusan Madrasah Aliyah berprestasi untuk dikuliahkan di Jawa. Lalu saya meminta Ibu Kepala Sekolah untuk mendaftarkan saya agar bisa memperoleh beasiswa tersebut. Ibu kepala sekolah pun mengiyakan dan meminta saya bertemu Bapak Rabuji. Pak Rabuji juga adalah salah satu guru di SMP Islamiyah yang kenal dengan pimpinan pesantren tersebut. Hari berikutnya saya dan bapak saya diantar ke pimpinan pesantren tersebut beserta dua orang teman saya yang dicalonkan juga untuk menerima beasiswa tersebut. Hari itu juga kami berangkat bersama-sama menuju pesantren yang letaknya berbeda kecamatan dengan kecamatan saya yaitu kecamatan Paloh.
Pertemuan saya, dua orang teman saya, Pak Rabuji dan orang tua masing-masing dengan pimpinan pesantren tersebut membuahkan kesepakatan untuk mencalonkan kami bertiga menjadi penerima beasiswa full hingga wisuda sarjana kuliah di Jawa. Kami dicalonkan untuk menerima beasiswa tersebut dengan syarat telah melengkapi syarat-syarat administrasi dan persyaratan mengabdi. Kesempatan ini memberikan harapan baru bagi saya untuk mengejar impian yang masih tertunda. Kuliah di Jawa memang impian saya, karena di pulau Jawa tingkat kemajuan dan pembangunannya jauh lebih baik daripada di kalimantan. Setelah sekian lama dan usaha yang tidak sedikit, saya begitu senang dan bersemangat sekaligus bersyukur ternyata Allah menjawab pertanyaan besar saya.
Berselang 2 bulan, pimpinan pesantren tersebut yaitu Ustad Sayudin Santi memberi kabar dan menanyakan kesiapan saya untuk berangkat ke Jakarta. Ternyata diantara kami 3 orang yang dicalonkan hanya ada kuota satu orang yang menerima beasiswa tersebut. Pak Sayudin memilih saya dengan beberapa pertimbangan saran dari para guru di SMP tersebut. Keputusan tersebut membuat saya sangat beruntung, antara percaya dan tidak. Seorang mantan karyawan steam motor dan petani karet akhirnya bisa melanjutkan pendidikan tinggi ke pulau Jawa. Tidak pernah terpikir sebelumnya, karena memang Tuhan yang mengatur semuanya. Seorang anak melayu yang tinggal di ujung Negri akhirnya berkesempatan bisa kuliah dibiayai oleh Kementrian Agama.
Pendirian Perantren “Akhlakul Karimah” Sambas memang disupport penuh oleh Kementrian Agama dalam rangka membangun kawasan/daerah perbatasan. Mulai dari pembangunan sarana dan prasarana, operasional dan pengembangan sumber daya manusianya dimotori oleh Kementrian Agama. Kawasan perbatasan memang menjadi agenda dan prioritas pembangunan agar terjadi pemerataan pembangunan di seluruh Negri. Pendirian pesantren tersebut juga merupakan sebuah terobosan baru, mengingat masih sangat minimnya pesantren yang ada di kawasan perbatasan. Diharapkan dengan keberadaan pesantren di willayah perbatasan dapat menopang pembangunan bangsa.
Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berbasis ilmu agama, pesantren “Alkhlakul Karimah” juga mencetak generasi anak bangsa yang berkarakter keislaman dan kebangsaan. Di pesantren, para santri diajarkan bagaimana hidup berdampingan dengan orang yang berbeda sifat dan wataknya, sehingga sistem pembelajarannya diarahkan agar mereka bisa saling membantu dan bergotong royong. Para santri juga diwajibkan shalat 5 waktu secara berjamaah dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang lain sebagai sebuah rutinitas. Pesantren yang berlokasi di wilayah perbatasan dengan negara Malaysia ini mendorong para santrinya untuk selalu bangga menjadi warga negara Indonesia dengan semangat keislaman yang kuat.     
Ditunjuknya saya yang mewakili pesantren Akhlakul Karimah merupakan sebuah kesempatan sekaligus memikul beban dan tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Amanah akan selalu mangiringi langkah saya, karena di pulau Jawa saya tidak hanya membawa nama pribadi saya akan tetapi juga nama keluarga besar pesantren Akhlakul karimah dan Kabupaten Sambas juga tentunya.

Ø  Bertemu Sang Motivator.
Tepat di awal januari 2011 saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Jawa, tepatnya di Bogor Jawa Barat. Disini banyak hal-hal yang sama sekali baru dan belum pernah saya lihat sebelumnya di daerah saya. Saya diantar sampai ke Bogor oleh Pak Samsyul, salah satu pejabat Kementrian Agama yang secara kebetulan waktu itu sedang melaksanakan perjalanan dinas ke Sambas untuk melakukan monitoring pembangunan pesantren saya. Beliau orang yang sangat baik, pemerhati daerah-daerah tertinggal dan sangat peduli dengan kondisi di daerah-daerah perbatasan. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta Jakarta, saya diajak naik Bus Damri sembari menikmati pemandangan Ibu Kota menuju kota Bogor. Pertama kali melihat pemandangan kota Jakarta yang begitu megah, saya takjub dengan kemajuan dan pesatnya pembangunan di Ibu Kota. Pak syamsul banyak bercerita dan memberitahu berbagai hal baru yang saya lihat ketika itu. Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur memiliki kesempatan berada disitu waktu itu. Karena belum tentu orang lain memiliki kesempatan yang sama seperti apa yang saya dapatkan.
Ketika tiba di Bogor saya tidak lagi melihat gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi seperti di Jakarta. Lalu saya diajak naik kereta api ekonomi yang sesak karena banyaknya penumpang dan orang bebas berjualan, ngamen dan meminta-minta di dalam gebong kereta. Ini pertama kalinya saya naik kereta api yang biasanya hanya saya lihat di televisi. Di tengah-tengah sesaknya penumpang kereta, saya menyaksikan wajah-wajah pejuang dan tak kenal lelah dan malu yang tampak dari para pedagang, pengamen dan peminta-minta. Ini menandakan bahwa hidup disini penuh dengan persaingan dan kompetisi, jika gagal berkompetisi maka gagal pula untuk hidup layak. Saya sempat berpikir, mungkin jika saya menjadi mereka saya tidak akan kuat. Sebuah pemandangan baru yang 180 derajat berbeda baik secara geografis, antropologis dan sosial politiknya dengan daerah saya, Sambas.
 Berselang 30 menit di rumah Pak Syamsul, saya langsung diajak naik mobil pribadi menuju ke sebuah tempat. Di tengah-tengah perjalanan, Pak Syamsul memberitahu saya kalau beliau akan mengantarkan saya ke tempat yang akan menjadi asrama sekaligus tempat tinggal saya selama saya kuliah nantinya. Tak lama kemudian, tibalah kami di tempat yang mirip seperti villa. Lingkungan sekitarnya begitu natural dan sejuk, jauh dari hawa panasnya Jakarta. Di depan jalan masuknya saya melihat tulisan “Lembaga Bina Santri Mandiri” atau disingkat LBSM.
LBSM adalah sebuah lembaga pengembangan intelektual dan keterampilan santri yang berbasis pengamalan agama Islam. Disini saya bertemu dengan teman-teman seperjuangan saya yang sama-sama ingin mewujudkan impian dan kesuksesan. Mereka berasal dari berbagai daerah, beragam suku dan budaya, dan beragam latar belakang. Ada yang berasal dari Aceh, Lampung, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT hingga Papua. Saya ditempatkan di dalam satu ruang asrama dengan tujuh teman seperjuangan saya yang juga berasal dari beberapa daerah perbatasan mereka adalah Muhammad Adha/Utje (Ambalat-Kaltim), Sugeng Rinanto/Si Mbah (Sintang-Kalbar), Husnul/Uncle (Sabang-Aceh), Miftahul Abshor/Si Shor (NTT), dan dua orang dari Merauke-Papua (Ahmad habiburrohim/Namek dan Wendi/Wicak). Di LBSM juga terdapat pesantren Arbain yang kemudian berubah menjadi Pesantren Pendawa. LBSM berada di lingkungan masyarakat Sunda Betawi yang masih tergolong masyarakat lingkungan pedesaan, karena keberadaan pesantren biasanya identik dengan masyarakat akar rumput. Selain menjadi tempat berkembangnya embrio santri-santri yang hebat, LBSM juga berperan memberdayakan masyarakat sekitar dan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat di sekelilingnya.
Di LBSM lah saya memulai perjalanan intelektual dan pergeseran paradigma ilmu saya. Di bidang intelektual keagamaan, saya tidak memiliki modal pendidikan kepesantrenan sebelumnya sehingga disinilah mulai saya mengenal dan merasakan kehidupan di pesantren. Menjadi bagian keluarga besar LBSM dan Pesantren, menuntut saya untuk bisa menyesuaikan diri dengan pola kehidupan disini. Saya dan teman-teman memulai rutinitas kehidupan pesantren sebagai santri dengan harapan semua ilmu dan pengalaman yang didapat dapat bermanfaat ketika kami kembali ke daerah masing-masing kelak.
Setelah beberapa hari tinggal di LBSM, akhirnya saya dan teman-teman dipertemukan dengan pendiri lembaga ini yaitu Bapak Imam Syafe’i. Kesan pertama bertemu, beliau orang yang sederhana dan bersahaja, walaupun beliau adalah salah satu pejabat tinggi di Kementrian Agama. Guratan wajah dan tutur kata beliau memperlihatkan bahwa beliau orang yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Saya mendengar dengan seksama penjelasan beliau mengenai aturan dan pola hidup yang akan kami lalui di LBSM. Beliau juga sudah kami anggap sebagai orang tua kami yang akan membimbing, mengarahkan dan mendorong kami untuk kesuksesan kami dalam belajar. Satu hal yang masih saya ingat ketika pertama kali mendengar dan menyimpulkan kata-kata beliau adalah beliau selalu mengajak kami untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan persamaan. Di dalam kebersamaan ada keberkahan dan di dalam persamaan ada semangat persaudaraan. Simbol-simbol kebersamaan dan pesamaan selalu beliau tampakkan kepada kami setiap kali bertemu beliau, misalnya beliau tidak pernah bosan-bosan mengajak kami shalat berjamaah dan melaksanakan kerja bakti membersihkan dan memperindah lingkungan tempat tinggal kami.
Setiap paling tidak satu minggu sekali Pak Imam memberikan kuliah subuh kepada kami, tepatnya setelah jamaah solat subuh. Bukan seperti ceramah ala ustad yang dipenuhi dalil-dalil, bukan seperti pidato menggebu-gebu ala presiden dan bukan pula seperti kata sambutan ala Pak Mentri, melainkan suntikan falsafah hidup dan kehidupan yang Pak Imam berikan kepada kami. Sembari mengiringi perjalanan sinar mentari pagi di ufuk barat, Beliau memotivasi kami untuk selalu memperbaiki kualitas diri dan memberikan kemanfaatan hidup kepada orang lain melalui apa yang kami miliki. Di hadapan saya dan 40 teman-teman saya, beliau menuturkan kata-kata bijak yang menginspirasi kami untuk menggali dan mengenali bakat dan potensi kami masing-masing. Tak jarang beliau menggali makna filosofis dari kehidupan alam sekitar untuk diambil nilai-nilai kebajikannya. Petuah dan semangat hidup dari Pak Imam sangat berharga bagi kami yang sedang dalam pencarian jati diri. Selain itu beliau selalu menyinggung falsafah hidup “Bekerja, Belajar dan Beribadah” yang menjadi motto LBSM agar mengingatkn kami untuk tidak menyianyiakan waktu dan kesempatan dengan melakukan ketiga hal tersebut.

Ø  Kuliah di Perguruan Tinggi NU
Impian dan penantianku untuk bisa kuliah akhirnya tercapai.Tak lama setelah kedatangan kami di LBSM, Pak Imam meminta kami untuk mendaftarkan diri kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta tanpa ada tes masuk dan langsung bisa kuliah saat itu juga. Antara Kementrian Agama sebagai pemberi beasiswa dan STAINU sebagai lembaga pendidikan tinggi sudah ada perjanjian atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai kuliah kami di STAINU. Kami hanya menyerahkan persyaratan administrasi kepada bagian akademik STAINU dan tanpa memikirkan biaya kuliah mulai pendaftaran masuk sampai wisuda nanti karena sudah dibiayai oleh Kementrian Agama secara full. Saya dan teman-teman dihadapkan dengan satu pilihan yaitu mengambil program studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Walaupun jurusan PAI bukan pillihan saya, tapi itu tidak mengurangi semangat saya untuk bisa kuliah. Bisa kuliah saja itu sudah sangat cukup bagi kami. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, anak-anak perbatasan yang jauh dari kesejahteraan dan akses pembangunan dapat menikmati pendidikan di bangku kuliah dan jaminan biaya hidup serta dipercaya mengemban amanah dan uang rakyat. Saya dan teman-teman mulai aktif kuliah dengan penuh semangat karena doa dan harapan banyak orang terpikul di pundak kami.
STAINU Jakarta terletak tidak jauh dari LBSM dan bisa sampai ke kampusnya dengan berjalan kaki, jadi kami tidak perlu memikirkan biaya transfortasi ke kampus tersebut. STAINU tergolong kampus baru dan mahasiswanya pun belum banyak. STAINU Jakarta berpusat di Jakarta dan memiliki beberapa program kelas jauh. Nah, di Bogor tempat kami kuliah ini merupakan salah satu kelas jauh yang dimiliki STAINU Jakarta tepatnya STAINU Jakarta Kampus B Kemang, Bogor. Setiap paling tidak tiga bulan sekali kami harus ke Jakarta kampus pusat untuk mengikuti kuliah umum. Pada saat kuliah umum inilah kami berkesempatan bertemu dan bersosialisasi dengan teman-teman mahasiswa yang datang dari beberapa kelas jauh STAINU yang lain seperti dari kampus A pusat sendiri, kampus C Kedoya dan Kampus D Cengkareng.
Kuliah di STANU memberikan kesempatan dan ruang bagi saya untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman berorganisasi. Dengan penuh semangat, kami memperoleh ilmu dan pengetahuan dari dosen-dosen hebat. Segala proses dan dinamika kehidupan kampus kami jalani sembari memperdalam ilmu agama dan life skill di LBSM. Kuliah di jurusan PAI otomatis menuntut kami untuk mendalami keilmuan Islam dari perspektif pendidikan karena PAI akan mencetak guru-guru PAI yang pandai menguasai keilmuan/konten materi agama sekaligus metodologi pembelajaran agama ketika mengajar nanti. Selain memperoleh ilmu penguasaan materi agama dan metodologi pembelajaran agama, kami juga aktif di organisasi kampus. Mungkin pengalaman berorganisasi inilah yang membedakan dinamika sekolah dengan dinamika kampus. Sejak semester ketiga saya dan teman-teman ikut bergabung bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Saya baru merasakan atmosfer kehidupan kampus setelah ikut bergabung bersama PMII.
PMII adalah organisasi kaderisasi yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah serta secara kultural tetap mengamalkan amaliyah NU. Adanya PMII menyediakan ruang gerak mahasiswa untuk aktif merespon masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya. Selain hanya belajar dan berdiskusi bersama dosen, mahasiswa membutuhkan wadah khusus yang independen untuk mengaktualisasikan dan mengekspresikan diri. Pendidikan kaderisasi pertama PMII adalah melalui kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) kemudian dilanjutkan dengan Pendidikan Kader Dasar (PKD). Setelah melalui kedua tingkat pendidikan formal PMII tersebut, saya dipercaya untuk menjadi koordinator kajian PMII di kampus STAINU. Kemudian setelah PKD, ada Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) dan ketika itu saya ikut PKL di Garut.   Mahasiswa yang ikut ber-PMII memiliki kemampuan dan nilai lebih baik secara intelektual maupun secara politik kebangsaan. Di PMII kami juga diajarkan tentang kepemimpinan, paling tidak bisa memimpin diri sendiri dalam memutuskan segala masalah. PMII sangat kental dengan kajian diskusinya setelah ada diskusi terhadap suatu masalah sosial kemasyarakatan maupun keagamaan, dibuat sebuah kesepakatan untuk dijadikan persamaan dalam persepsi. Keberadaan PMII sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dimana ketika suatu masalah yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, mahasiswalah yang menjadi promotor penggerak untuk menyuarakan kepentingan rakyat.
Ikut berorganisasi seperti PMII memberikan manfaat yang banyak bagi saya baik secara langsung maupun manfaat yang tidak langsung. Ber-PMII dapat meningkatkan kemampuan berbicara di depan orang banyak. Selain itu, saya dan teman-teman dapat memperluas relasi tidak hanya dengan sahabat-sahabat di kampus sendiri tapi juga dapat menjalin hubungan keorganisasian dengan sahabat-sahabat dari kampus luar baik di wilayah Bogor maupun di level Nasional. Melalui organisasi ini, para mahasiswa dididik untuk bertanggung jawab dan amanah terhadap diri sendiri, orang lain dan masyarakat pada umumnya. Karena suatu saat nanti para pemudalah yang akan  melanjutkan dan mengisi pembangunan bangsa menggantikan golongan-golongan tua.
Selain ikut di PMII, saya juga sempat aktif di organisasi intra kampus yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ketika kepengurusan BEM 2012-2013 saya masuk di struktur BEM STAINU dan dipercaya mengkoordinir divisi Pendidikan. Organisasi BEM juga menyediakan ruang gerak bagi saya dan teman-teman untuk ikut mensukseskan berbagai even dan acara yang direkomendasikan oleh kampus STAINU Jakarta.

Ø  The Power of  “Human Networking”
Dalam kitab “Muqaddimah,” Ibnu Khaldun menyatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Dalam tulisan yang lain, Aristoteles juga mengemukakan bahwa manusia adalah mahluk Zon Politicon atau mahluk sosial. Mahluk sosial adalah suatu kecendrungan alamiah dari dalam diri manusia untuk hidup berdampingan atau berinteraksi dengan manusia lainnya. Sebuah keniscayaan bahwa untuk bertahan hidup dan melestarikan kehidupannya, manusia membutuhkan manusia lainnya. Manusia tidak bisa hidup sendiri dalam mengarungi kehidupan di muka bumi. Al-qur’an juga menegaskan bahwa manusia saling membutuhkan satu sama lain. Dengan kata lain, memaknai sifat manusia ini bisa disebut bahwa manusia memiliki kehidupan sosial. Kehidupan sosial terjadi melalui berbagai lembaga sosial seperti keluarga, teman, sekolah, media, dan masyarakat. Manusia itu sendirilah yang menata, menjalani dan memperbaiki kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan sosial, manusia yang satu dengan yang lainnya hendaknya saling memberi manfaat. Dengan saling memberi manfaat, manusia akan hidup tentram dan diberikan keberkahan dalam hidupnya.
Manusia yang memiliki naluri sosial yang tinggi biasanya lebih cenderung mudah dikenal atau bahkan cepat terkenal karena ia selalu memperlihatkan sikap peduli kepada orang lain. Dalam teori sosial, media untuk meningkatkan hubungan sosial adalah melalui komunikasi yang baik. Sebuah fakta terjadi bahwa, ada seseorang yang memiliki tujuan yang baik namun disampaikan dengan komunikasi yang kurang efektif justru tujuan baik tersebut disalah artikan kepada sesuatu yang kurang baik atau maksud dan tujuan tersebut terdistorsi. Yang terjadi adalah orang yang bertujuan baik tersebut akhirnya dicap beritikat kurang baik karena pembicaraan dan komunikasinya kurang efektif. Penting bagi kita untuk menguasai teknik-teknik komunikasi yang baik dan efektif agar tujuan baik kita dapat diserap dengan sebaik-baiknya tanpa menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain yang mendengar.
 Pak Imam merupakan orang yang memiliki teknik komunikasi yang baik dan efektif yang pernah saya temukan. Ketika beliau berbicara dan berkomunikasi kepada saya dan teman-teman selalu menggunakan pilihan kata yang tepat dan bisa dipahami dengan baik. Beliau pun dikenal baik oleh teman-teman LBSM dan warga di sekitar LBSM dengan sikap kepedulian beliau yang tinggi. Ketika menginstruksikan sesuatu kepada kami, beliau selalu mengucapkan kata “Tolong!” sebelum mengucapkan kata perintah yang diinginkan. Mengucapkan “Tolong ambilkan cangkul di belakang!” itu lebih baik daripada langsung mengucapkan “Ambilkan cangkul di belakang!” Hal seperti ini sebenarnya sangat sepele, tapi tahukah kita bagaimana dengan orang yang mendengarnya. Betapa pentingnya komunikasi yang baik dan efektif seperti yang telah dicontohkan Pak Imam. Beliau juga pernah berpesan tentang hal ini dihadapan kami para santri. Pemilihan kata yang tepat harus dipertimbangkan dalam berkomunikasi agar apa yang kita ucapkan dapat tersampaikan dengan baik kepada orang lain. Dari beliau kami banyak belajar mengenai teknik berkomunkasi yang baik.
Dari komunikasi yang baik dan efektif, terdapat banyak manfaat bagi diri sendiri dan orang lain sehingga dengan siapapun kita berkomunikasi, ucapan kita akan sangat di pertimbangkan. Di LBSM kami sering kedatangan orang-orang besar yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi baik dari dalam maupun luar negri. Beberapa diantanya yang saya ingat, di LBSM pernah kedatangan Mentri Agama dan pejabat-pejabatnya, mantan Gubernur Kalimantan Timur, Penulis Buku, para Kyai, Ustad, Dosen, Politisi, Pengusaha, Wartawan, Kedubes Maroko, peneliti dari Jepang, Ulama dari Iran, Syiria, Maroko, dan masih banyak lagi. Saya yakin orang-orang besar tersebut bisa sampai ke LBSM karena Pak Imam melakukan komunikasi yang baik kepada mereka. Orang-orang berpengaruh tersebut datang menyempatkan waktu untuk berdiskusi dan membagi pengalaman bagaimana menjadi orang sukses. Beruntung sekali bisa dipertemukan dengan orang-orang sukses seperti mereka, semoga saya dan teman-teman bisa mengikuti jejak langkah orang-orang sukses yang bisa membanggakan keluarga.
Satu hal yang terlintas dipikiran saya ketika bertemu dengan orang-orang hebat yaitu bagaimana kita bisa memanfaatkan momentum pertemuan tersebut untuk membangun jaringan/networking seluas-luasnya. Lewat komunikasi yang aktif dan efektif, saya dan teman-teman diminta oleh Pak Imam untuk menjalin hubungan baik kepada siapapun orang yang pernah kita temui terutama kepada orang-orang yang telah sukses. Ketika dipertemukan oleh Pak Imam kepada orang-orang hebat, kami diperkenalkan satu persatu dengan menyebutkan daerah kami masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar dapat memetakan wilayah dalam memperluas jaringan/networking.
Jaringan/networking sangat penting untuk diperluas dan akan bermanfaat suatu saat kelak. Jika sudah saling mengenal dan dekat satu sama lain, maka akan mudah untuk merintis dan mengembangkan karir baik di bisnis maupun di pemerintahan. Semakin banyak kita mengenal orang, maka akan semakin besar peluang dan kesempatan yang akan kita miliki. Kesempatan untuk mempromosikan sesuatu akan lebih mudah jika kita sudah saling kenal. Kesempatan bekerja di sebuah perusahaan besar yang dimiliki oleh orang yang kita kenal sebelumnya akan mudah kita dapatkan dibandingkan belum mengenal sama sekali. Oleh karena itu, Pak Imam berpesan kepada kami, peliharalah jaringan/networking yang sudah kita miliki dan saling mendoakan untuk kesuksesan satu sama lain. Jika sudah sukses suatu saat nanti baik itu saya ataupun teman-teman saya, maka yang akan dicari terlebih dalulu adalah teman-teman seperjuangan yang dulu bersama-sama susah dan prihatin ketika belajar dalam merintis kesuksesan.
Ada potensi besar yang dapat saya tangkap dengan dikumpulkannya kami yang berasal dari berbagai daerah di satu tempat yang sama, nasib yang sama, ladang perjuangan yang sama dan dengan proses dan dinamika yang sama. Pak Imam ingin menjadikan LBSM sebagai basis gerakan dalam membangun human networking atau jaringan dengan berbagai macam orang dari berbagai daerah dan kalangan. Ide ini sangat brilian bagi orang-orang yang berpikirnya kedepan (futuristic approach). Potensi daerah kami satu sama lain pasti berbeda dengan kebutuhan yang berbeda pula. Potensi tersebut akan sulit berkembang dan dipasarkan jika tidak memiliki pasar dan jangkauan yang luas dan hanya akan berkutat di daerah itu-itu saja. Namun dengan memanfaatkan jaringan/human networking yang kita punya, maka akan mempermudah kita mempromosikan potensi daerah kita. Di sisi yang lain, kita juga mudah untuk memenuhi kebutuhan daerah kita dimana kebutuhan tersebut minim di daerah kita. Kita bisa memanfaatkan jaringan/human networking melalui teman di daerah lain untuk memudahkan mendatangkan barang/kebutuhan yang diinginkan. Manfaat dan keberkahan dari membangun human networking tersebut akan kami tuai Insya Allah kelak ketika kami kembali ke kampung halaman masing-masing.
Bagi saya dan teman-teman yang berasal dari perbatasan juga tidak kalah pentignya membangun dan memelihara jaringan/human networking. Ini untuk mengembangkan pembangunan daerah-daerah perbatasan. Salah satu penyebab lambannya pembangunan di daerah perbatasan selama ini adalah kurang efektifnya koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah perbatasan. Pemerintah pusat menganggap pemerintah daerah sudah mumpuni dalam mengatur daerahnya masing-masing dan pemerintah daerah juga kurang agresif membangun daerahnya masing-masing serta kurang berkoordinasi secara intens kepada pemerintah pusat mengenai permasalahan di daerahnya.
Dengan adanya saya dan teman-teman dari perbatasan bisa menjadi wakil dan jembatan untuk mengungkapkan fakta lambannya pembangunan di daerah kami kepada pemerintah pusat. Pembangunan di daerah perbatasan justru harus diprioritaskan karena daerah perbatasan menjadi garda terdepan berhadapan dengan negara-negara tetangga. Rasanya cukup skeptis melihat bagaimana jakarta dengan pembangunan ala gedung pencakar langit dan membandingkannya dengan pembangunan di perbatasan yang masih terseok-seok. Berkesempatan menjadi duta orang-orang perbatasan, saya dan teman-teman berharap agar suatu saat ketika kami pulang ke daerah kami masing-masing nanti bisa menjadi agen perubahan untuk kemajuan daerah perbatasan dengan memanfaatkan jaringan/human networking dengan orang-orang di pusat pemerintahan. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di wilayah perbatasan seperti pembangunan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan pasar dan lain-lain.

Ø  Berkesempatan Belajar ke kampung Inggris “Pare.”
Pesantren Pendawa yang berada di bawah naungan LBSM tidak seperti pesantren pada umumnya. Sesuai dengan namanya PENDAWA atau kepanjangan dari Pesantren Enterpreneurship Penuda dan Mahasiswa. Pesantren kami memiliki beberapa keunikan dibanding dengan pesantren-pesantren lainnya. Jika di pesantren pada umumnya santri yang belajar biasanya adalah anak seusia SMP dan SMA. Namun pesantren Pendawa hanya menampung mahasiswa, sehingga wajar jika santri yang belajar disini dipanggil dengan sebutan “Mahasantri” mahasiswa sekaligus santri. Memperoleh status santri sekaligus mahasiswa menuntut kami untuk pandai memanfaatkan dan mengatur waktu sebaik mungkin, karena di samping melaksanakan kewajiban sebagai santri, kami juga wajib menyelesaikan tugas-tugas kuliah sebagai mahasiswa.
Pesantren Pendawa menyelenggarakan beberapa program pendidikan pesantren seperti mengaji kitab-kitab salaf, Program bahasa Arab dan Inggris, serta berbagai program amaliah-amaliah kepesantrenan lainnya. Program pendidikan kepesantrenan ini hanya dilaksanakan lebih banyak pada malam hari dan hari-hari libur kuliah, menyesuaikan dengan jadwal perkuliahan kami. Karena pada siang hari saya dan teman-teman santri lainnya bergelut dengan dunia kampus sebagaimana mahasiswa pada umumnya.
Mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam di kampus kami rasakan kurang mendalam dan sangat terbatas hanya untuk mengejar beberapa SKS. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Ustad Jauhari, LC saat memberikan pengajian kepada kami di pesantren. Ustad Jauhari, LC adalah pengasuh di pesantren Pendawa. Beliau sangat istiqomah mengajarkan ilmu-ilmunya kepada kami di pesantren. Oleh karena itu, beliau berkata bahwa kami harus banyak belajar dan menggali khazanah kelmuan Islam di pesantren untuk menunjang pembelajaran di kampus yang belajarnya berbasis diskusi. Kami lebih leluasa memahami keilmuan Islam secara komprehensip dan tidak sepotong-sepotong di pesantren.
Kewajiban menuntut ilmu agama di pesantren tidak lantas mewajibkan kami untuk menjadi ustad atau kyai. Ini seperti yang dijelaskan oleh Pak Imam kepada kami. Di pesantren Pendawa para santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama dan tradisi-tradisi pesantren. Pak Imam berusaha mendorong kami untuk mengenal dan mengembangkan bakat, minat, dan keahlian yang kami masing-masing. Karena bakat minat seseorang itu masing-masing unik yang membedakannya dengan orang lain. Pak Imam pun termsuk orang yang pandai menangkap dan mengetahui bakat minat kami masing-masing. Oleh karena itu beliau sering mengundang orang-orang hebat dengan berbagai karakter dan kesuksesan masing-masing sebagai inspirator bagi kami untuk menemukan potensi kami yang sebenarnya. Selain itu, beliau sering mengadakan berbagai macam pelatihan life skill seperti pelatiha pertanian, peternakan, pelatihan jurnalistik, pelatihan menjahit dan pelatihan-pelatihan vokasional lainnya.
Tujuan diadakannya berbagai pelatihan vokasional dan life skill di LBSM adalah untuk menjaring para santri agar kami benar-benar yakin dengan bakat minat yang kami miliki. Pak Imam selalu berharap agar paling tidak satu atau dua orang yang “kecantol” atau terjaring untuk fokus menekuni satu bidang keahlian tertentu. Sungguh pola pendidikan yang benar-benar memanusiakan. Karena memang pada dasarnya setiap orang itu unik dan istimewa. Beliau juga berkata bahwa kami tidak bisa hanya mengandalkan secarik kertas ijasah untuk mencari kerja. Akan tetapi kami harus memiliki keterampilan/keahlian baik berupa soft skill maupun hard skill. Dengan mengembangkan life skill yang kami miliki, ini akan sangat membantu kami menentukan kesuksesan karir. Pak Imam tidak ingin kami menjadi orang yang bermental pekerja. Oleh karena itu, sebaiknya kamilah yang menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Diantara berbagai fasilitas dan pelatihan life skill yang Pak Imam sediakan untuk kami, saya sangat tertarik untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris. Sejak di Madrasah Aliyah saya sudah mendapatkan beberapa penghargaan dalam bidang bahasa inggris. Walaupun saya kuliah di Pendidikan Agama Islam, tapi hal itu tidak menutup gerak saya untuk belajar dan menekuni bahasa Inggris. Di kampus, memang saya tidak banyak waktu untuk belajar bahasa Inggris itu pun hanya beberapa SKS saja. Saya banyak belajar dan mempraktekkan percakapan bahasa Inggris di pesantren sebagai basis pembelajaran yang integratif dan bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama teman-teman santri.
Saya dan teman-teman yang aktif belajar bahasa Inggris di pesantren sangat merasakan sekali perkembangan dan kemajuan kami baik dalam hal percakapan, menulis, maupun pemahaman materi bahasa Inggris. Seiring perjalanan peningkatan tersebut, saya dan teman-teman berusaha menciptakan lingkungan dan atmosfer berbahasa Inggris di Pesantren. Usaha dan keberhasilan kami dalam membuat lingkungan berbahasa Inggris tidak lepas dari peran Mas Zulkarnain atau akrab disapa mas Zul. Beliau adalah salah satu santri yang berasal dari tepian sungai Mahakam, Samarinda yang beruntung mendapatkan beasiswa santri berprestasi dari Kementrian Agama dan menyelesaikan progran sarjananya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selepas lulus dengan predikat Cumlaude, beliau diminta mengabdi di pesantren Pendawa lalu mengajar kami bahasa Inggris. Dari beliau kami banyak menimba ilmu dan pengalaman terutama dalam publik speaking hingga saya dan teman-teman bisa lebih percaya diri berbicara di depan orang banyak.
Atas saran mas Izul, saya dan teman saya Sugeng sempat kaget dipanggil Pak Imam untuk belajar dan memperdalam bahasa Inggris ke Pare, Kediri. Awalnya saya belum tahu bahwa Pare sangat terkenal dengan sebutan Kampung Inggris, tapi setelah diceritakan oleh Pak Imam saya semakin termotivasi dan senang sekali diberikan kesempatan kesana. Ini kesempatan yang luar biasa bagi saya untuk mengembangkan potensi saya di bahasa Inggris. Pak Imam ingin saya dan sugeng bisa menyerap dan meniru sistem pembelajaran bahasa Inggris yang ada di Pare untuk selanjutnya diterapkan di LBSM nantinya.
Sebuah cita-cita besar dalam membangun sumber daya manusia yang kelak bisa bermanfaat di lingkungan tempat ia berada. Pola kaderisasi ini yang coba diterapkan oleh Pak Imam kepada kami santri-santrinya. Beliau memberikan peluang melalui berbagai fasilitas, pelatihan dan program vokasional lainnya untuk dapat kami manfaatkan sebaik-baiknya agar kelak imbas dari peluang tersebut bisa menjadi gambaran bagi santri-santrinya dalam mengembangkan potensinya. Seperti keinginan beliau untuk mengirim saya dan teman saya Sugeng ke Pare semata-mata bukan hanya untuk memperdalam pengetahuan mengenai bahasa Inggris. Ini  dimaksudkan agar pengetahuan dan pengalaman tersebut dapat dibagi kepada teman-teman yang ada di LBSM.Uuntuk selanjutnya beliau juga ingin saya dan teman-teman bisa menjadi pemimpin dan bisa dipimpin (mengutip perkataan beliau: “everyone here is leader, everyone here is servant). Itu artinya setelah dari Pare nanti saya dan Sugeng diharapkan mampu mengembangkan strategi terbaik mengajak teman-teman yang lain untuk lebih menghidupkan berbahasa Inggris di pesantren.
Selama kurang lebih sebulan saya dan Sugeng berada di Pare, Kediri untuk mempelajari bahasa Inggris dan sistem pembelajarannya. Di kampung Inggris ini saya dan sugeng dihadapkan dengan lingkungan baru yang 100 persen berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Orang-orang yang berada di kawasan kampung Inggris tersebut semuanya berbicara bahasa Inggris mulai dari tetangga rumah kos, penjual koran, penjual makanan hingga tukang becak. Tempat-tempat kursus yang tersedia juga banyak dan bervariasi dari segi kualitas dan biaya pendidikannya. Mr. Kallen, pendiri kampung Inggris ini bercerita awalnya kampung ini dulu baru terdapat 1 tempat kursus bahasa Inggris. Selanjutnya karena semakin banyak minat orang-orang untuk belajar bahasa Inggris maka tempat kursus tersebut tidak dapat menampung lagi dan murid-murid Mr. Kalend juga sudah banyak yang berpengalaman menjadi tutor disana. Maka muncullah ide untuk membuat kampung Inggris dengan mengembangkan tempat-tempat kursus yang lain agar orang semakin banyak yang mau belajar disana. Hingga sekarang sudah ada 140 lebih tempat kursus dengan berbagai pilihan dan variasi kualitasnya disana. Bahasa Inggris disana sudah dijadikan bahasa sehari-hari, jadi kita langsung bisa mempraktekkan keterampilan berbahasa Inggris kita kapanpun. Setiap pagi saya menyaksikan banyak orang yang sedang belajar bahasa Inggris dengan berbagai cara dan metode. Ada orang yang sambil melakukan jogging sedang menghapal kosakata dengan riang. Ada orang yang berdiri di depan rumah kos menggunakan kursi sambil berbicara sendiri menggunakan bahasa Inggris. Ada lagi orang yang sedang bersepeda sambil berbincang-bincang menggunakan bahasa Inggris dan masih banyak lagi cara yang dilakukan orang-orang disana agar semakin bisa menguasai bahasa Inggris.
Itulah sekelumit cerita tentang pengalaman saya ketika berada di kampung Inggris Pare. Pengalaman yang sebentar tapi berkesan, terbatas tapi sangat bernilai, serta penuh dengan pengalaman berharga setiap detiknya.


Ø  Antara Bersyukur, Harapan, dan Impian
Bercermin dari sekelumit kisah yang saya bagikan, dengan usaha yang tidak mudah untuk bisa kuliah, dengan perjuangan panjang agar bisa memperbaiki kualitas diri dan dengan limpahan anugerah dan karunia yang Allah berikan kepada saya, semua itu adalah secara sadar saya curahkan di dalam tulisan ini dalam rangka untuk mengisi hidup dengan bersyukur. Tak mungkin adanya kesempatan yang baik ini saya dapatkan tanpa ada kekuatan yang mengatur dan menggerakkan hati dan pikiran saya kecuali dengan rahmat dan kehendak Allah. Sebuah keyakinan yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tua saya bahwa, sebesar apapun usaha seorang manusia, keberhasilan dan sukses tidak akan tercapai tanpa pertolongan Allah SWT. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada orang-orang dan semua pihak yang ikut menjadi bagian dari hidup saya. Rasanya tak kan mungkin saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa ini tanpa bantuan dari orang-orang disekeliling saya.
 Kesempatan yang baik bisa mewakilli masyarakat di wilayah perbatasan kabupaten Sambas tentunya juga memberikan saya sebuah harapan untuk bisa meningkatkan kualitas diri dan menebarkan semangat perubahan pada kondisi sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Alam kehidupan di Bogor memberikan sejuta pengalaman dan pelajaran hidup yang mendewasakan hidup saya. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya bagaimana Allah mendesain perjalanan hidup saya hingga berada dan menjadi bagian dari Bogor dengan segala keunikannya. Semoga ke depan kelak saya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat perbatasan di Kabupaten Sambas setelah kembali dari Bogor. 



0 komentar: