Makalah: Paradigma Baru Managemen Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju perubahan dan kedewasaan. Kedewasaan dalam bentuk akal, mental, maupun moral dalam rangka menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan khalik-Nya dan juga sebagai khalifahtul fil ardh pada alam semesta ini.
Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan benar-benar bisa diaktualisasikan dan diaplikasikan pada zaman kejayaan Islam. Dimana aktualisasi tersebut adalah sebuah proses dari sekian lama umat muslim berkecimpung dalam naungan ilmu-ilmu keIslaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Hal ini dapat kita saksikan ketika pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban, sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan, sekaligus yang mewarnai peradaban di sepanjang jazirah arab, asia barat, hingga eropa timur. Berangkat dari hal yang telah disebutkan di atas terlihat bahwa adanya sebuah paradigma dalam manajemen pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan. Upaya membangun manajemen pendidikan Islam berwawasan global dewasa ini bukan persoalan mudah karena pada waktu bersamaan pendidikan Islam harus memiliki kewajiban untuk melestarikan, menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dan dipihak lain berusaha untuk menanamkan karakter budaya nasional Indonesia dan budaya global. Upaya untuk membangun pendidikan Islam yang berwawasan global dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah yang terencana dan strategis, apabila nilai-nilai tersebut dapat memasuki relung-relung pendidikan Islam sampai pada akar-akarnya kemungkinan pendidikan kita akan menemukan jalan keluar, pendidikan Islam yang berwawasan global yang dimaksud adalah pemikiran yang terus menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan iptek, sebagaimana zaman keeamasan dulu.[1]

Read More »

0 komentar:

TERNYATA CARA BERPIKIR MANUSIA TIDAK HANYA EKTROVER DAN INTROVER





Pada dasawarsa 1980-an, asumsi kepribadian yang belaku adalah bahwa semua “otak kanan” akan mempunyai pembawaan ekstrover dan “otak kiri” mempunyai pembawaan introver. Namun Geil Browning telah mengamati banyak otak kanan yang introver dan otak kiri yang ekstrover. Bagaimana bisa demikian?

Read More »

0 komentar:

CORETAN ANAK MELAYU SAMBAS

Success isn’t about how much money we make,
it’s about the differences we make in people’s life
“Michelle Obama”

Ø  Jawaban Tuhan atas Doa dan Usaha Hamba-NYA.
Saya Alanuari, anak pertama dari bapak Bakran dan ibu Nurjannah, putra asli melayu Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Saya berasal dari daerah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia tepatnya di ujung utara kabupaten Sambas yaitu kecamatan Galing. Menempuh jarak kurang lebih dari 10 km dari desa saya, saya sudah bisa menuju Sarawak Malaysia atau yang sering diklaim dengan sebutan Tanjung Datok. Saya mengawali pendidikan formal di Sekolah Dasar Negri 21 Parit Baru kemudian melanjutkan ke SMP Islamiyah Sekura dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Swasta Yasti Sekura tahun 2009. Selama mengenyam pendidikan menengah saya tinggal bersama Nenek saya, karena di kampung orang tua saya belum ada sekolah setingkat SMP dan SMA. Di sana desa antar desa dipisahkan oleh sungai dan anak sungai yang terbentang di seluruh pelosok kampung, sehingga transportasi yang paling dominan adalah perahu. Tak terkecuali transportasi untuk anak-anak sekolah yang sedang mengenyam pendidikan.

Read More »

0 komentar:

Belajar Bahasa Inggris: Kebutuhan!!!



Salah satu bahasa asing yang menjadi kebutuhan di era global sekarang ini adalah bahasa Inggris. Orang beramai-ramai mempelajari bahasa ini dengan berbagai tujuan dan motivasi. Sebagian ada yang ingin mengembangkan karir di dunia pekerjaan dan sebagian yang lain mempelajari bahasa Inggris untuk kepentingan studi serta kepentingan-kepentingan yang lain. Setiap kali saya membaca kolom lowongan kerja di perusahaan atau instansi pemerintah yang luma    yan salarynya, disana selalu mencantumkan kemampuan bahasa Inggris sebagai prasyarat baik secara lisan maupun tulisan. Ini memang sudah menjadi tuntutan di dunia kerja. Factor utamanya adalah karena perusahaan/instansi pemerintah sekarang ini banyak bersinggungan dengan dunia luar, makanya kemampuan bahasa Inggris menjadi modal utama untuk berkomunikasi dengan pihak luar. Selain itu, informasi yang lebih luas bisa didapat dari artikel-artikel dan sumber-sumber berbahasa Inggris, nah hal ini akan sangat memerlukan kamampuan membaca dan memahami tulisan berbahasa Inggris. Sementara untuk kepentingan studi, bisa dikatakan, orang-orang mutlak harus memiliki kemampuan bahasa Inggris minimal bahasa Inggris pasif seperti kemampuan membaca dan memahami tulisan dan penuturan bahasa Inggris.
Ada sebagian orang yang menganggap belajar bahasa Inggris itu sulit karena mereka berpandangan mereka tidak memiliki bakat di bidang bahasa. Hal ini menurut saya agak keliru memandangnya. Memang ada sebagian orang yang dianugerahi bakat lebih di bidang bahasa, dengan tanda-tanda seperti: mereka cepat menangkap maksud pembicara, mereka memiliki kemampuan verbal yang lebih baik berupa bisa menuturkan bahasa asing hampir persis seperti penutur aslinya dan mereka cepat beradaptasi dengan lingkungan baru bermodalkan kemampuan bahasa asing. Namun, menurut saya setiap orang mampu memahami bahasa asing manapun dengan syarat-syarat:
1.      Mulai menirukan gaya bicara dalam bahasa apapun.
2.      Mulai membiasakan diri dengan aktivitas mendengar, berbicara, menulis dan membaca baik secara pribadi maupun secara berkelompok dengan komitmen menjaga ritme pembiasaannya.
3.       Berusaha mencari atmosfer bahasa Inggris melalui dunia nyata maupu jejaring sosial.
4.      Belajar secara intensif baik terstruktur di lembaga belajar/kursus maupun belajar otodidak.

Beberapa poin di atas bukan sekedar tips, namun ajakan untuk mendisiplinkan diri jika kita ingin menguasai bahasa Inggris. Karena mau tidak mau, disengaja ataupun tidak, suka atau tidak suka bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan personal. Saya bercermin dari sosok Pak Jokowi presiden RI tercinta, walaupun beliau kelihatannya tidak begitu fasih berbahasa Inggris dengan gaya khasnya totok Jawanya ketika sedang berbicara kepada orang asing, akan tetapi saya yakin beliau sudah membiasakan 4 hal di atas.  Tugas kita selanjutnya adalah memposisikan diri kita berada di angka berapa jika interval kemampuan bahasa Inggris 1 sampai 10. Jika belum sama sekali maka mulailah dari angka 0 (nol), karena kita tahu ketika kita bayi, bahasa Ibu itu sama sekali asing bagi kita hingga posisi kita sekarang mungkin sudah diangka 10 dalam pengusaan bahasa Ibu.

There is no reason to take far away from the reality, it is time to learn…!!!



0 komentar: